Membaca Injil harian dan renungan memegang peranan penting bagi umat Katolik. Dengan melakukan ini, umat Katolik mendekatkan diri pada Tuhan setiap hari, memperkuat iman, dan membentuk karakter Kristiani.
Renungan harian juga memberikan ketenangan batin dalam kehidupan yang sibuk, sambil memberikan panduan moral. Waktu pribadi dengan Tuhan melalui Injil harian menciptakan momen spiritual yang mendalam.
Selain itu, membaca Injil mendorong umat Katolik untuk menyadari panggilan misioner dan memperkaya hubungan dengan sesama.
Saudara-saudari terkasih, hari ini kita masuk pada Bacaan Injil Katolik dan Renungan Harian Katolik buat Senin 25 November 2024.
Kalender Liturgi hari buat Senin 25 November 2024 merupakan Hari Senin Biasa XXXIV, Perayaan fakultatif Santa Katarina dari Aleksandria, Perawan dan Martir, dengan Warna Liturgi Hijau.
Yuk, kita simak Bacaan Liturgi Katolik dan Renungan Harian Katolik pada hari Senin 25 November 2024:
Bacaan Pertama Wahyu 14:1-3,4b-5
Pada dahi mereka tertulis nama Anak Domba dan nama Bapa-Nya.
Aku, Yohanes, melihat. Sungguh, Anak Domba berdiri di bukit Sion dan bersama-sama dengan Dia seratus empat puluh empat ribu orang. Pada dahi mereka itu tertulis nama Anak Domba dan nama Bapa-Nya. Lalu aku mendengar suatu suara dari langit bagaikan desau air bah dan bagaikan deru guruh yang dahsyat.
Dan suara yang kudengar itu bunyinya seperti permainan kecapi. Seratus empat puluh empat ribu orang itu menyanyikan suatu nyanyian baru di hadapan takhta dan di depan keempat makhluk serta tua-tua.
Tidak seorang pun dapat mempelajari nyanyian itu selain keseratus empat puluh empat ribu orang yang telah ditebus dari bumi. Merekalah orang-orang yang mengikuti Anak Domba ke mana saja Ia pergi.
Mereka ditebus dari antara manusia sebagai kurban-kurban sulung bagi Allah dan bagi Anak Domba. Dan di dalam mulut mereka tiada terdapat dusta. Mereka tidak bercela.
Demikianlah Sabda Tuhan.
U. Syukur Kepada Allah.
Mazmur Tanggapan Mzm. 24:1-2,3-4ab,5-6
Ref. Inilah angkatan yang mencari wajah-Mu, ya Tuhan.
Milik Tuhanlah bumi dan segala isinya, jagat dan semua yang diam di dalamnya. Sebab Dialah yang mendasarkan bumi di atas lautan, dan menegakkannya di atas sungai-sungai.
Siapakah yang boleh naik ke gunung Tuhan? Siapakah yang boleh berdiri di tempat-Nya yang kudus? Orang yang bersih tangannya dan murni hatinya, yang tidak menyerahkan diri kepada penipuan.
Dialah yang akan menerima berkat dari Tuhan dan keadilan dari Allah, penyelamatnya. Itulah angkatan orang-orang yang mencari Tuhan, yang mencari wajah-Mu ya Allah Yakub.
Bait Pengantar Injil: Alleluya
Ref. Alleluya, alleluya
Berjaga-jaga dan bersiap-siaplah, sebab Anak Manusia datang pada saat yang tidak kalian duga.
Bacaan Injil Lukas 21:1-4
Yesus melihat seorang janda miskin memasukkan dua peser ke dalam peti derma.
Di Bait Allah, tatkala mengangkat muka, Yesus melihat orang-orang kaya memasukkan persembahan mereka ke dalam peti persembahan. Ia melihat juga seorang janda miskin memasukkan dua peser ke dalam peti itu.
Maka Yesus berkata, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin itu memberi lebih banyak daripada semua orang itu. Sebab mereka semua memberikan persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberikan dari kekurangannya, bahkan ia memberikan seluruh nafkahnya.”
Demikianlah Injil Tuhan.
U. Terpujilah Kristus.
Renungan Harian Katolik Senin 25 November 2024
Dalam kehidupan sehari-hari, kita seringkali mendengar atau bahkan terlibat dalam upaya berbagi dengan orang lain, entah itu berbagi rejeki, waktu, atau tenaga. Namun, sejauh manakah kita memahami makna sejati dari memberi? Bacaan Injil Lukas 21:1-4 dan Bacaan Pertama Wahyu 14:1-3, 4b-5, mengajarkan kita tentang dua hal yang sangat berharga dalam hidup: ketulusan dan kesetiaan kepada Tuhan, meski dengan apa adanya.
Dalam Injil Lukas, kita diajak untuk merenungkan sikap seorang janda miskin yang memberi dua peser ke dalam peti persembahan di Bait Allah. Di tengah banyak orang yang memberikan dari kelimpahan mereka, janda ini memberikan seluruh nafkahnya. Bukan jumlah yang besar yang menjadi perhatian Yesus, melainkan ketulusan dan keberanian untuk menyerahkan segalanya meski dalam keadaan yang serba kekurangan. Tuhan tidak melihat besar atau kecilnya apa yang kita beri, tetapi melihat hati kita yang tulus. Dalam dunia yang seringkali menilai segala sesuatu berdasarkan ukuran materi, Injil ini mengingatkan kita bahwa kasih dan ketaatan kepada Tuhan bukanlah soal banyaknya yang kita miliki, tetapi sejauh mana kita rela memberikan diri kita tanpa pamrih, meski dalam keadaan yang kurang.
Sementara itu, dalam Bacaan Pertama dari Wahyu, kita mendengar tentang sekelompok orang yang mengikuti Anak Domba (Kristus) dengan setia. Mereka adalah orang-orang yang hidupnya mencerminkan kesucian dan ketulusan hati, yang tidak terkotori oleh dusta. Mereka memilih untuk tetap setia dan murni dalam perjalanan iman mereka. Dalam dunia yang penuh godaan dan ketidakpastian, mereka mengingatkan kita untuk tetap berjalan bersama Kristus, mengikuti-Nya ke mana pun Dia pergi, dan menjaga hati serta perbuatan kita tetap bersih.
Kedua bacaan ini mengajak kita untuk memahami bahwa Tuhan tidak menilai berdasarkan ukuran duniawi, tetapi lebih pada ketulusan hati dan kesetiaan kita. Ketaatan kepada Tuhan bukan hanya tentang memberikan harta kita yang berlebih, melainkan tentang memberikan seluruh hidup kita kepada-Nya, sebagaimana janda miskin itu memberikan seluruh nafkahnya. Dan seperti orang-orang yang disebut dalam Wahyu, kita pun dipanggil untuk mengikuti Kristus dengan hati yang murni, menanggalkan segala kepalsuan dalam hidup kita.
Di zaman sekarang, ketika hidup seringkali diukur dengan kesuksesan materi, kedua bacaan ini mengingatkan kita untuk lebih memperhatikan kualitas hati kita. Apakah kita memberi dengan tulus? Apakah kita mengikuti Kristus dengan sepenuh hati, tanpa menyisakan kemunafikan? Ini bukan hanya tentang memberi uang atau harta, tetapi memberi perhatian, waktu, dan kasih kepada sesama, tanpa mengharapkan imbalan. Tuhan melihat setiap tindakan kecil yang kita lakukan dengan hati yang ikhlas, dan itu lebih berarti bagi-Nya daripada apa pun yang kita miliki.
Pesan utama yang dapat kita ambil adalah: kehidupan iman kita bukan tentang apa yang kita punya, tetapi tentang bagaimana kita menyerahkan hidup kita kepada Tuhan dalam ketulusan dan kesetiaan. Dalam setiap langkah hidup, marilah kita terus berusaha mengikuti jejak Kristus dengan hati yang bersih, penuh kasih, dan tanpa pamrih. Kita dipanggil untuk menjadi saksi Kristus di dunia ini, bukan dengan megahnya apa yang kita miliki, tetapi dengan kesetiaan dan ketulusan hati kita. Amin.
Doa Penutup
Tuhan, ajarilah aku memberi dengan tulus, meski dalam kekurangan. Semoga hati dan hidupku selalu setia mengikuti-Mu, tanpa pamrih dan tanpa kepalsuan. Bantu aku meneladani kasih-Mu dalam setiap tindakan, mempersembahkan diri sepenuhnya untuk kemuliaan nama-Mu. Amin.